Perbedaan Bukan Halangan Untuk Mencintai Tanah Air

1986

Kudus (07/08) – Memasuki bulan kemerdakaan Indonesia, Bea Cukai Kudus ajak pegawai untuk mencintai tanah air sesuai dengan Quran Surat Al Hujurat Ayat 13 melalui bintal Islam pekan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan pegawai muslim Bea Cukai Kudus. Pada Rabu (07/08), bertempat di Masjid Jami Ghoiru Al-Fattah, Ustadz Suyoto memberikan ceramah mengenai cinta tanah air dalam pandangan Islam kepada seluruh pegawai, CS-PKD, dan adik-adik PKL muslim.

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Hujurat : 13, yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ustadz Suyoto menjelaskan “Hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbeda – beda, tetapi bukan untuk merendahkan satu dengan yang lain melainkan untuk saling mengenal dan menghormati perbedaan itu. Apalagi kita tinggal di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama.”
Cinta tanah air merupakan salah satu wujud dari keimanan kita. Cinta tanah air dapat diwujudkan melalui menjaga kebersihan lingkungan, menghormati orang tua, menghargai sesama teman meskipun berbeda keyakinan, belajar agama, dan berusaha agar keberadaaan kita mendatangkan manfaat untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

Tanah air dalam hal ini didefiniskan dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada dasarnya, setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Sebagimana dulu saat Indonesia dijajah Belanda, para pahlawan nasional yang mayoritas beragama muslim berjuang mati – matian dengan semangat jihad membela tanah airnya.

Kesimpulannya adalah bahwa mencintai tanah air bukan hanya karena bentuk terima kasih kita terhadap tanah air, tetapi juga bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mengaku sebagai orang yang beriman, maka kita harus mencintai Indonesia sebagai tanah air. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman.